18 September 2015

MAKOTO KOBAYASHI: PENERIMA NOBEL FISIKA 2008

Ads by Google

Makoto Kobayashi, penerima nobel fisika 2008
Makoto Kobayashi dilahirkan di Nagoya, Jepang pada masa perang dunia II tepatnya pada tanggal 7 April 1944. Di paruh waktu masa perang itu, Kobayashi kecil harus mengungsi ke kampung Kawagoe di Prefektur Mie sehingga selamat dari peristiwa pengeboman tentara sekutu di Nagoya. Ayah Kobayashi adalah seorang mantri kesehatan yang bekerja sebagai direktur pusat kesehatan Nagoya. Dia meninggal tak lama setelah perang dunia II berakhir. Waktu itu Kobayashi masih berusia dua tahun. Karena usianya yang masih relatif kanak-kanak saat ayahnya meninggal, Kobayashi sama sekali tidak memiliki kenangan dengannya.

Sepeninggal ayahnya, Kobayashi bersama keluarganya kembali ke Nagoya dan berupaya menemukan kembali rumah mereka yang dulu yang waktu itu telah menjadi abu akibat dahsyat bom atom. Karena rumah dulunya itu tidak mungkin ditempati lagi, akhirnya Kobayashi tinggal di rumah keluarga ibunya. Ibu Kobayashi, bernama Ai, bermarga Kaifu. Ketika itu, kakeknya dan keluarga pamannya tinggal bersama-sama di rumah nenek Kobayashi. Sepupu paling tua Kobayashi, yang bernama Toshiki Kaifu, kelak menjadi perdana menteri Jepang. Kobayashi adalah anak tunggal. Sepupunya yang lain, yang bernama Norio Kaifu, adalah seorang astronom yang bekerja di National Astronomical Observatory Jepang.

Pada tahun 1975, Kobayashi menikah dengan Sachiko Enomoto. Putranya, Junichiro, lahir pada tahun 1977. Sachiko meninggal akibat kanker pada usia 39 tahun. Pada tahun 1990, Kobayashi menikah lagi dengan Emiko Nakayama. Ayah Emiko adalah seorang matematikawan yang terkenal dengan penelitiannya tentang aljabar Fronebius. Kobayashi tidak pernah bertemu dengan mertuanya itu sebab dia meninggal ketika Emiko, istrinya, masih kecil. Bersama Emiko, Kobayashi memiliki seorang puteri bernama Yuka.

Pendidikan sekolah dasar dan menengah Kobayashi ditempuh di sekolah umum. Tidak ada hal-hal yang istimewa pada masa-masa sekolah ini. Ketika di sekolah atas (setaraf SMA), hampir setiap hari Kobayashi bermain tenis. Meskipun Kobayashi tidak terlalu hebat dalam bermain tenis, Kobayashi menjadikan olah raga ini sebagai rutinitasnya pada tahun-tahun usia dewasanya. Sekitar masa dewasa itulah, Kobayashi membaca buku berjudul “Evolution of Physics” yang ditulis oleh Albert Einstein dan Leopold Infeld. Buku itu memantik rasa suka Kobayashi terhadap fisika.

Akhirnya Kobayashi memilih jurusan fisika di Nagoya University. Ketertarikannya ke Nagoya University bukan hanya karena dekat dengan tempat tinggalnya, tetapi juga karena Shoichi Sakata bekerja di salah satu fakultas di universitas tersebut. Shoichi Sakata terkenal berkat model partikel fundamentalnya, sehingga bahkan siswa sekolah atas pun mengenalnya.

Ketika menjadi mahasiswa pascasarjana, Kobayashi memulai penelitiannya dalam bidang fisika partikel sebagai anggota laboratorium pimpinan Profesor Sakata. Atmosfer yang penuh kebebasan dalam laboratorium tersebut; yang diterapkan tanpa pandang bulu, memberi kesempatan kepada mahasiswa pascasarjana untuk berpartisipasi secara penuh dalam diskusi satu sama lain di antara para peneliti. Dari hasil diskusi dengan para peneliti itulah Kobayashi banyak memperoleh pengalaman.

Profesor Sakata meninggal dunia ketika Kobayashi masih menjadi mahasiswa pascasarjana. Selama menjalani hari-harinya tanpa kehadiran Prof. Sakata lagi, Kobayashi banyak berdiskusi dengan Profesor Yoshiro Ohnuki. Di Nagoya University, Kobayashi juga bertemu dengan Toshihide Maskawa. Perkenalan pertama Kobayashi dengan Maskawa sebenarnya adalah saat Kobayashi masih mahasiswa sarjana. Ketika itu, Maskawa banyak membantu teman-teman Kobayashi dalam belajar.

Kobayashi mulai melakukan penelitian bersama dengan Maskawa setelah menjadi mahasiswa pascasarjana. Tema penelitian pertama mereka adalah simetri chiral. Kobayashi dan Maskawa mencoba menjelaskan topik tersebut dengan menggunakan pendekatan dari perspektif model kuark.

Pada bulan Maret 1972, Kobayashi meraih gelak doktornya dalam bidang fisika dari Nagoya University. Pada masa itu, mendapatkan sebuah posisi tertentu bagi seorang peneliti pasca-doktoral adalah hal yang sulit. Untungnya, Kobayashi akhirnya mendapat kontrak dari Kyoto University untuk menjadi seorang peneliti muda Jurusan Fisika di universitas tersebut. Bulan April, Kobayashi pindah ke Kyoto. Di sana ia melanjutkan penelitiannya bersama Maskawa, yang telah pindah ke Kyoto University lebih dahulu. Di Kyoto pula, Kobayashi bersama Maskawa mengerjakan topik tentang pelanggaran simetri CP, sebuah penelitian yang akhirnya mencatatkan nama mereka sebagai salah seorang penerima hadiah nobel fisika.

Penemuan partikel J/ pada tahun 1974 telah menggemparkan banyak negara, termasuk Jepang. Berbagai teori dikemukakan untuk menjelaskan karakter partikel J/ tersebut. Akhirnya diketahui bahwa partikel tersebut merupakan charmonium, yang merupakan sebuah keadaan ikatan kuark c dan anti partikelnya. Sebelumnya, petunjuk tentang adanya sebuah kuark keempat dikemukakan oleh Kiyoshi Niu dalam eksperimennya memapar tabung emulsi dengan sinar-sinar kosmik. Berdasarkan hasil Kiyhoshi Niu itu, sejumlah kelompok peneliti Jepang, termasuk grup dimana Kobayashi bergabung, berusaha mencari sebuah model untuk kuark keempat. Sayangnya, hasil-hasil penelitian mereka tidak mampu memprediksi waktu hidup keadaan charmonium yang lama.

Pada tahun 1975, tau lepton ditemukan. Karena penemuan ini mengindikasikan adanya kuark generasi ketiga, model enam kuark yang dikemukakan fisikawan menarik perhatian. Meskipun Kobayashi tidak berkontribusi secara langsung pada pengembangan model enam kuark tersebut, tetapi Kobayashi pernah menulis sebuah makalah yang berhubungan dengan model tersebut bersama dengan Katsuhiko Sato. Kobayashi mencoba menjelaskan massa dan waktu hidup neutrino dengan menggunakan argumen kosmologi.

Ads by Google
Selama periode tersebut, KEK (Laboratorium nasional energi inti di Jepang, semacam CERN di Swiss) telah mulai mengoperasikan akselerator sinkrotron proton yang dimilikinya dan sedang membahas tentang kelanjutan proyek TRISTAN berikutnya. Kobayashi terlibat dalam pembahasan tersebut dan kemudian dikontrak menjadi profesor pada Divisi Teori di KEK sehingga menyebabkannya harus pindah ke Tsukuba pada tahun 1979. Saat itu Divisi Teori KEK dikepalai oleh Hirotaka Sugarawa. Kobayashi bergabung di KEK bersamaan dengan Motohiko Yoshimura. Pada tahun tersebut, Kobayashi menerima penghargaan Nishina.

Sejak berada di KEK, Kobayashi sibuk membuat berbagai proposal untuk proyek TRISTAN. Proyek ini mula-mula dimaksudkan untuk membuat penumbuk elektron-positron-proton. Namun demikian, yang diterima usulan pembangunannya adalah pembangunan penumbuk elektron-positron yang dibangun pada tahun 1981. Operasi penumbuk tersebut mulai tahun 1987. Tanpa dapat meraih cita-cita menemukan kuark atas, TRISTAN dihentikan pada tahun 1995.

Selama periode tersebut, Kobayashi menghabiskan waktu selama 3 bulan di CERN sejak November 1982. Saat di CERN, partikel W ditemukan. Hal ini merupakan pengalaman yang sangat menarik bagi Kobayashi.

Pada tahun 1989, Kobayashi ditunjuk menjadi kepala Divisi II Fisika KEK. Dan sejak menempati posisi tersebut, Kobayashi bersama sejawatnya mulai bersungguh-sungguh mempersiapkan rencana pembangunan sebuah reaktor pasca-TRISTAN yaitu pembuatan akselerator B-factory dalam terowongan TRISTAN dan mengoperasikannya dengan sebuah tujuan untuk membuktikan pelanggaran CP dalam sebuah sistem meson B. proposal pembangunannya diterima dan mulai tahap pengerjaan pada tahun 1994. Eksperimen yang menggunakan B-factory dimulai pada tahun 1999, dan hasil pertama dari eksperimen ini diperoleh pada tahun 2000.

Tahun 2003, Kobayashi diangkat menjadi direktur institut studi partikel dan inti KEK. Dalam posisi barunya itu, Kobayashi bertanggung jawab langsung terhadap aktivitas penelitian eksperimen institusi yang dijalankan menggunakan akselerator B-factory. Selama menjabat sebagai direktur institut tersebut, Kobayashi KEK kemudian diubah dari sebuah organisasi pemerintah menjadi sebuah korporasi penelitian yang tidak berikatan dengan pemerintah. Kobayashi menjadi sangat sibuk dalam melakukan reorganisasi ini. Untungnya selama masa tersebut, mereka masih dapat menjaga bahkan meningkatkan performa akselerator B-factory. Hasil eksperimen mereka menunjukkan teori 6 kuark kelihatan cukup akurat.

Pada tahun 2006, Kobayashi pensiun dari jabatannya sebagai direktur institut dan menikmati masa-masa kebebasannya. Dia diundang menjadi anggota senior IIAS (International Institute for Advanced Studies), dan dalam kapasitasnya sebagai anggota senior Kobayashi berkesempatan ke distrik Kansai untuk tetap berdiskusi dan menulis makalah bersama dengan seorang rekannya, Taichiro Kugo, seorang teman yang pernah bersama-sama melakukan penelitian.

Berbagai penghargaan telah diterima Kobayashi selama kariernya. Tahun 2001 menerima penghargaan Person of Cultural Merit, dan penghargaan Order of Cultural pada tahun 2008, dari pemerintah Jepang. Pada tahun 2007 Kobayashi menerima penghargaan fisika partikel energi tinggi dari European Physical Society. Tentu saja penghargaan paling bergengsi yang diterimanya adalah peraih penghargaan nobel fisika bersama-sama dengan Yoichiro Nambu dan Toshihide Maskawa.

0 komentar :

Posting Komentar