Bagaimana Cara Kerja Camcorder?



cara kerja camcorder

Rasanya hampir semua orang mengetahui apa itu camcorder. Orang awam menyebutnya alat shooting. Hampir di seluruh dunia telah mengenal alat ini sejak kurang lebih 20-an tahunan lampau. Camcorder adalah singkatan dari camera-recorder (kamera perekam). Banyak orang membawa camcorder kemana-mana: ke acara di sekolah, even olah raga, acara keluarga, bahkan pada peristiwa kelahiran! Ketika Anda berada di sebuah lokasi pariwisata, Anda akan banyak melihat camcorder berseliweran dibawa oleh pengunjung lainnya. Bahkan, Anda pun termasuk yang sering membawanya. Alat ini begitu bermanfaat merekam kejadian-kejadian di sekitar kita yang sayang untuk dilewatkan.

Bagaimana alat luar biasa tersebut bisa melakukan fungsinya?

Susunan Dasar Camcorder

Camcorder analog yang paling sering kita lihat umumnya terdiri atas dua bagian dasar:
  • Bagian kamera, yang terdiri atas sebuah CCD, lensa, dan motor untuk mengatur zoom, fokus, dan bukaan (aperture).
  • Bagian VCR, yaitu sebuah VCR seperti pada TV yang dibuat kecil agar dapat dimasukkan ke dalam ruang yang lebih kecil.
Fungsi komponen-komponen kamera adalah untuk menerima informasi visual dan menerjemahkannya menjadi sinyal elektronik video. Komponen-komponen VCR berfungsi persis sama dengan VCR yang dihubungkan ke TV Anda. Komponen-komponen bagian ini berfungsi menerima sinyal video dalam bentuk sinyal elektronik dan merekamnya ke atas pita video dalam bentuk pola-pola magnetik. (lihat bagaimana VCR bekerja secara detail).

Gambar berikut memperlihatkan kedua bagian tersebut di atas.

dua bagian utama camcorder

Komponen ketiga, yang disebut viewfinder, menerima gambar video sehingga kita bisa melihat apa yang sedang dishooting. Viewfinder ini sebenarnya semacam televisi hitam-putih atau warna yang berukuran kecil. Meskipun demikian, sekarang ini telah banyak camcorder yang memiliki layar LCD besar full color. Ada banyak variasi format camcorder analog dan berbagai fitur tambahan, tapi desain dasar dari hampir semua camcorder teresebut seperti di atas. Variabel utamanya adalah media jenis penyimpanan apa yang digunakannya.

Camcorder digital memiliki semua unsur dan komponen di atas, beserta beberapa unsur tambahan yang berfungsi mengumpulkan informasi analog kamera dan mengubahnya menjadi bit-bit data. Berbeda dengan camcorder analog, sinyal video pada camcorder digital di simpan dalam deretan pola-pola magnetik yang kontinu. Camcorder digital merekam gambar video dan audio tersebut ke dalam pola 1 dan 0. Jenis camcorder digital sangat populer karena Anda dapat menyalin 1 dan 0 sangat mudah tanpa kehilangan informasi apapun dari apa yang terekam. Di sisi lain, pada informasi analog, beberapa informasi akan lenyap setiap kali diadakan proses penyalinan dengan kata lain proses penyalinan tidak menghasilkan dengan tepat sinyal aslinya. Selain itu, informasi video dalam bentuk digital dapat diunduh ke dalam komputer, dimana kita dapat mengeditnya, menyalinnya kembali, mengirimkannya melalui e-mail, bahkan memanipulasinya.

Charge-Coupled Device (CCD)


Lagi-lagi CCD. Alat ini memang sangat banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya kamera film, sebuah camcorder memandang dunia melalui lensa. Dalam kamera film, lensa berfungsi memfokuskan cahaya dari sebuah objek di atas lapisan film yang berisi zat kimia yang dapat bereaksi terhadap sinar (cahaya). Dengan cara ini, kamera film merekam pemandangan yang ada di depannya: mengambil jumlah cahaya yang lebih banyak dari bagian pemandangan yang lebih cerah, dan jumlah cahaya yang lebih sedikit dari bagian pemandangan yang lebih gelap. Lensa pada camcorder juga berfungsi untuk memfokuskan cahaya, tetapi jika pada kamera film cahaya terfokus itu dijatuhkan ke film, maka untuk camcorder, cahaya terfokus itu dijatuhkan pada sensor gambar dari bahan semikonduktor. Sensor ini, yang disebut charge-coupled device (CCD), “menyapu” cahaya dengan menggunakan panel berukuran setengah inchi (sekitar 1 cm) yang terdiri atas 300 000 sampai 500 000 diode-diode peka cahaya yang sangat kecil, yang disebut fotosel.

Ads by Google

Tiap fotosel menghitung jumlah cahaya (foton) yang menumbuk sebuah titik tertentu, dan mengubah informasi tersebut menjadi elektron-elektron (muatan listrik). Sebuah gambar yang lebih cerah dinyatakan oleh muatan listrik yang lebih besar, dan gambar yang lebih gelap dinyatakan dengan muatan listrik yang lebih kecil. Hampir sama dengan seorang seniman yang membuat sebuah gambar sketsa dengan cara mengontraskan bagian-bagian yang gelap dengan bagian-bagian yang terang, sebuah CCD menghasilkan sebuah gambar video dengan merekam intensitas cahaya objek. Pada saat pemutaran ulang, informasi ini akan menentukan intensitas sebuah berkas elektron televisi saat melewati layar.

Foton menumbuk sebuah fotosel dan menghasilkan elektron


Tentu saja, “penyapuan” intensitas cahaya semata hanya akan memberi kita gambar hitam putih. Untuk dapat memperoleh gambar warna, sebuah camcorder tidak hanya harus mendeteksi tingkat cahaya secara total, tetapi juga tingkat masing-masing warna cahaya. Karena untuk dapat menghasilkan spektrum warna maka kita hanya memerlukan kombinasi tiga warna saja yaitu merah, hijau, dan biru; untuk itu, maka sebuah camcorder perlu mengukur tingkat ketiga warna ini untuk membentuk sebuah gambar full color.

Bagaimana ketiga gabungan warna ini membentuk banyak warna?


Pada beberapa camcorder yang relatif canggih, sebuah pemecah berkas (beam splitter) digunakan untuk memisahkan sebuah signal menjadi tiga versi berbeda dari sebuah objek yang sama –satu versi menunjukkan tingkat warna cahaya merah, satu versi menunjukkan tingkat warna cahaya hijau, dan satu versi menunjukkan tingkat warna cahaya biru. Tiap-tiap versi gambar ini ditangkap oleh chip-nya sendiri. Chip ini bekerja seperti yang diuraikan di atas, tetapi masing-masing mengukur intensitas satu jenis warna saja. Kamera kemudian menumpuk ketiga versi gambar ini dan intensitas warna utama yang berbeda-beda dicampurkan untuk menghasilkan sebuah gambar berwarna. Camcorder yang menggunakan metode pembentukan gambar seperti di atas disebut dengan camcorder tiga-chip.

Bagaimana gambar asli diurai dalam sebuah beam splitter


Metode paling sederhana ini menghasilkan sebuah gambar yang kaya dan beresolusi tinggi. Namun demikian, CCD lebih mahal dan memakan banyak daya, sehingga dengan penggunaan tiga CCD saja, hal itu sudah cukup menambah biaya sebuah camcorder. Umumnya camcorder dibuat dengan satu CCD saja dengan cara memasang secara permanen filter warna pada tiap-tiap fotosel. Sejumlah persentase tertentu fotosel difungsikan mengukur tingkat cahaya merah saja, sejumlah persentase yang lain untuk mengukur cahaya hijau saja dan sisanya untuk mengukur cahaya biru saja. Hasil pembacaan warnanya kemudian disebar dalam sederetan grid (filter Bayer berikut ini merupakan konfigurasi grid yang umum), sehingga komputer kamera video dapat memperoleh gambaran tentang tingkat warna dalam semua bagian layar.

filter bayer

Metode ini memerlukan komputer untuk melakukan interpolasi warna sejati dari cahaya yang sampai pada masing-masing fotosel. Interpolasi dilakukan dengan cara menganalisis informasi yang diterima oleh fotosel lain di dekatnya.

Untuk dapat mengetahui secara lebih jelas bagaimana proses pembacaan warna ini, Anda bisa membacanya di artikel tentang cara kerja kamera digital.

Baik camcorder maupun kamera digital untuk gambar diam menggunakan CCD dalam menangkap gambar. Tetapi karena camcorder menghasilkan gambar yang bergerak, maka CCD pada camcorder memiliki beberapa komponen tambahan yang tidak terdapat pada CCD kamera digital. Untuk menghasilkan sinyal video, sebuah camcorder CCD harus mengambil banyak gambar tiap sekonnya, yang selanjutnya akan dikombinasikan untuk membentuk kesan gerakan.

Jika Anda memahami bagaimana televisi bekerja, Anda akan tahu bahwa televisi “membentuk” gambar berupa garis-garis horizontal melintasi sebuah layar, mulai dari atas bergerak ke bawah. TV sebenarnya menggambar setiap garis lainnya dalam satu kali lewat (ini disebut dengan “medan”) kemudian menggambar garis yang lainnya lagi pada gerakan berikutnya. Untuk menghasilkan sinyal video, camcorder menangkap sebuah frame video dari CCD dan merekamnya menjadi dua medan. CCD sebenarnya memiliki lapisan sensor lain selain sensor gambar. Pada setiap medan video, CCD memindahkan semua muatan fotosel ke lapisan kedua ini, yang selanjutnya memindahkan muatan-muatan listrik pada tiap fotosel, satu demi satu. Pada sebuah camcorder analog, sinyal ini menuju VCR, yang merekam muatan-muatan listrik (beserta informasi warna) sebagai pola-pola magnetik pada pita video. Pada saat lapisan kedua sedang memindahkan sinyal video, lapisan pertama telah menyegarkan dirinya dan menangkap gambar lainnya lagi.

Camcorder digital pada dasarnya bekerja dengan cara yang sama, kecuali pada tahap akhir prosesnya digunakan sebuah alat yang disebut konverter analog ke digital (analog-to-digital converter) untuk mencuplik sinyal analog dan mengubah informasi dalam sinyal tersebut ke dalam bentuk bit-bit data (1 dan 0). Camcorder merekam bit-bit ini pada medium penyimpanan, baik berupa pita, hard disk, atau sebuah DVD. Umumnya camcorder digital yang dijual di pasaran dewasa ini biasanya menggunakan pita (karena jenis ini lebih murah), sehingga camcorder ini memiliki sebuah komponen VCR yang sama dengan VCR camcorder analog. Namun demikian, kepala pitanya tidak merekam pola-pola magnetik analog, tetapi akan merekam kode biner. Camcorder digital interlaced merekam tiap-tiap frame menjadi dua medan, seperti pada camcorder analog. Camcorder digital progressif merekam video sebagai satu kesatuan frame yang diam, yang selanjutnya akan dipecah menjadi medan saat video tersebut dikeluarkan dalam bentuk sinyal analog.

Lensa


Sebagaimana telah dikemukakan di atas, tahap pertama dalam merekam sebuah gambar video adalah memfokuskan cahaya ke atas CCD, dengan menggunakan lensa.

Agar kamera dapat merekam gambar yang bersih dari sebuah objek yang ada di depannya, kita perlu mengatur fokus lensa tersebut – yaitu menggerakkan lensa dengan tujuan agar berkas cahaya yang berasal dari benda tepat berada dalam tangkapan CCD. Dengan demikian, seperti halnya kamera film, camcorder memiliki lensa yang dapat digerakkan maju-mundur untuk memfokuskan cahaya. Tentu saja, dalam merekam gambar kita kadang-kadang perlu bergerak berputar bersama dengan camcordernya. Pada situasi seperti itu, melakukan pemfokusan secara terus menerus sambil merekam merupakan proses yang sangat sulit.

Itulah sebabnya semua camcorder memiliki alat autofokus, biasanya berupa sebuah berkas inframerah yang dipantulkan ke benda yang berada di tengah frame dan inframerah tersebut dipantulkan kembali ke sebuah sensor yang ada pada camcorder.

Bagaimana mekanisme autofokus inframerah itu?


Untuk menentukan jarak objek, prosesor menghitung berapa lama waktu yang diperlukan berkas untuk sampai pada objek dan dipantulkan kembali kemudian mengalikan waktu ini dengan kelajuan cahaya. Selanjutnya dibagi dengan 2 (karena dalam gerakannya, jarak yang ditempuh adalah dua kali –ke objek dulu kemudian kembali ke sensor).

Camcorder memiliki motor kecil yang berfungsi menggerakkan lensa, memfokuskannya pada objek yang berada pada jarak yang sesuai dengan hasil perhitungannya. Proses ini bekerja cukup baik setiap saat, namun kadang-kadang kita ingin tetap mengaturnya secara manual.

Camcorder juga dilengkapi dengan lensa zoom. Pada banyak jenis kamera, Anda dapat memperbesar sebuah pemandangan dengan meningkatkan panjang fokal lensa (jarak antara lensa ke film atau CCD). Lensa zoom optik adalah sebuah unit lensa tunggal yang memungkinkan kita untuk mengubah panjang fokal, sehingga kita dapat berpindah dari sebuah perbesaran ke perbesaran yang lebih dekat. Jangkauan zoom (zoom range) memberi tahu kita tentang perbesaran maksimum dan perbesaran minimum. Untuk membuat fungsi zoom lebih mudah digunakan, kebanyakan camcorder dilengkapi dengan motor yang mengatur lensa zoom. Motor ini menanggapi tombol yang digerakkan dan terletak di badan camcorder. Salah satu keuntungan mekanisme ini adalah kita dapat mengoperasikan zoom secara mudah, tanpa menggunakan tangan bebas kita. keuntungan lainnya adalah motor tersebut akan mengatur lensa pada kecepatan yang konstan, sehingga zoom lebih cair. Namun demikian, kekurangan penggunaan kontrol di camcorder adalah motor menyerap daya baterai.

Beberapa camcorder juga memiliki apa yang disebut zoom digital. Zoom jenis ini sama sekali tidak menggunakan lensa. Zoom ini secara sederhana melakukan zoom pada bagian keseluruhan gambar yang tertangkap oleh CCD, dengan cara memperbesar pikselnya. Zoom digital lebih menstabilkan gambar yang telah diperbesar dibandingkan zoom optik, tetapi Anda harus mengorbankan kualitas resolusi karena kita hanya menggunakan sebagian fotosel yang ada di CCD. Resolusi yang lemah menyebabkan gambar menjadi fuzzy (kabur).

Salah satu hal yang hebat dari camcorder adalah dia dapat mengatur secara otomatis tingkat cahaya yang berbeda-beda. Akan tampak sangat jelas bagi CCD kapan sebuah gambar kelebihan atau kekurangan paparan cahaya karena tidak akan banyak variasi muatan yang terkumpul pada tiap-tiap fotosel. Camcorder memantau muatan fotosel dan menyetel iris kamera sehingga memungkinkan lebih banyak cahaya atau lebih sedikit yang masuk melalui lensa. Komputer yang terdapat dalam camcorder selalu bekerja mempertahankan kontras yang baik antara gelap dan terang, sehingga gambar tidak akan terlihat terlalu gelap atau terlalu kabur.

Format


Camcorder analog merekam sinyal video dan audio sebagai sebuah jejak analog di atas pita video. Ini berarti bahwa setiap kali kita menyalin sebuah pita, maka akan berkurang sebagian kualitas gambar dan audionya. Format analog tidak memiliki sejumlah fitur mengesankan yang terdapat pada camcorder digital. Format analog terdiri atas:
  • VHS standar : kamera VHS standar menggunakan jenis pita video yang sama dengan sebuah VCR biasa. Salah satu keuntungan yang jelas dari format ini adalah setelah kita merekam sesuatu, kita dapat mengambil pita tersebut dan memainkannya pada hampir semua VCR. Karena cakupan penggunaannya yang luas, pita VHS sedikit lebih murah dibandingkan pita yang digunakan pada format-format lainnya; pita ini juga memberi waktu perekaman yang lebih panjang. Kekurangan utama format VHS standar adalah ukuran pitanya yang mengharuskan desain camcorder yang tidak praktis dan lebih besar. Format ini memiliki resolusi sekitar 230 x 250 garis horizontal, yang merupakan batas terendah dari camcorder yang tersedia sekarang.
  • VHS-C : camcorder VHS-C merekam di atas pita HVS standar yang ditempatkan dalam sebuah kaset yang lebih kompak. Anda dapat memainkan kaset VHS-C pada sebuah VCR standar, tetapi Anda memerlukan sebuah alat adaptor untuk menjalankan pita pada kaset secara keseluruhan. Pada dasarnya, format VHS-C menawarkan sejumlah kompatibilitas yang sama dengan format VHS. Ukuran pita yang lebih kecil sehingga memungkinkan desain yang lebih kompak, menyebabkan camcorder VHS-C lebih portabel. Tetapi berkurangnya ukuran pita juga berarti pita VHS-C memiliki waktu kerja yang lebih singkat dibandingkan dengan kamera VHS standar. Pada mode play pendek, pita ini hanya bisa memainkan video durasi 30 sampai 45 menit. Format ini dapat memainkan materi selama 60 sampai 90 menit jika kita merekam dalam modus extended play, tetapi hal ini akan mengorbankan kualitas gambar dan suara secara signifikan.
  • VHS Super: Camcorder VHS super memiliki ukuran yang hampir sama dengan kamera standar VHS, karena keduanya menggunakan ukuran pita yang sama. Satu-satunya perbedaan antara kedua format ini adalah bahwa pita VHS super merekam gambar dengan besar garis horizontal 380 sampai 400, sebuah gambar dengan resolusi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pita VHS standar. Anda tidak dapat memainkan pita VHS super pada sebuah VCR standar, tetapi, seperti halnya kebanyakan format yang lain, sebuah camcorder adalah sebuah VCR dan dapat dipasangkan secara langsung ke televisi atau ke VCR untuk mendub (melakukan pengisian suara) pada salinan VHS standar.
  • VHS-C super: Pada dasarnya, VHS-C super hampir sama dengan VHS super seperti halnya VHS-C yang hampir sama dengan VHS standar, yaitu sebagai versi kompak yang menggunakan kaset ukuran kecil.
  • 8mm : camcorder ini menggunakan pita kecil 8 mm (kira-kira seukuran dengan kaset audio). Keuntungan utama format ini adalah pabrik pembuat camcorder dapat menghasilkan camcorder yang lebih ringkas, bahkan sampai seukuran yang dapat dimasukkan ke dalam saku. Format ini memberikan resolusi yang sama dengan resolusi VHS standar, dengan kualitas suara yang sedikit lebih baik. Seperti halnya pita VHS standar, pita 8 mm memiliki durasi kira-kira dua jam, tetapi harganya lebih mahal. Untuk dapat memutar pita 8mm di televisi Anda, Anda harus memasangkan camcorder ke televisi dan menggunakannya sebagai sebuah VCR.
  • Hi-8: camcorder Hi-8 sangat mirip dengan camcorder 8mm, tetapi ada beberapa perbedaan penting. Salah satunya adalah camcorder Hi-8 memiliki resolusi yang jauh lebih besar –sekitar 400 garis. Selain itu, pita Hi-8 lebih mahal dibandingkan dengan pita 8mm biasa.

Format Digital


Camcorder digital berbeda dengan camcorder analog pada beberapa aspek yang penting. Camcorder digital merekam informasi secara digital, dalam bentuk bit-bit, yang berarti bahwa gambar dapat direproduksi kembali tanpa kehilangan kualitas gambar atau audio sama sekali. Video digital juga dapat diunduh ke dalam komputer, dimana kita kemudian dapat mengeditnya atau memajangnya di laman. Perbedaan lainnya adalah bahwa video digital memiliki resolusi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan video analog, biasanya sampai 500 garis. Ada dua pengguna format digital secara umum:
  • MiniDV: Camcorder miniDV merekam di atas kaset kompak, yang harganya cukup mahal dan berdurasi kira-kira antara 60-90 menit. Video ini memiliki garis resolusi yang cukup besar yaitu 500, dan dapat ditransfer dengan mudah ke komputer. Camcorder DV bisa memiliki bobot yang sangat ringan –beberapa di antaranya memiliki ukuran yang sama dengan ukuran sebuah novel bersampul tebal. Fitur menarik lainnya adalah kemampuannya untuk menangkap gambar yang diam, seperti kamera biasa.
  • Digital8: Camcorder digital8 sangat mirip dengan camcorder DV biasa, kecuali pada jenis camcorder ini memanfaatkan pita Hi-8mm standar, yang jauh lebih murah. Pita ini berdurasi sekitar 60 menit, yang dapat disalin tanpa kehilangan kualitas. Seperti halnya pada camcorder DV, kita dapat menghubungkan camcorder Digital8 ke komputer untuk mengunduh film andalan Anda untuk diedit atau untuk penggunaan di web. Camera Digital8 umumnya memiliki bit yang lebih besar dibandingkan camcorder DV –yaitu kira-kira seukuran model 8mm standar.
  • DVD: Camcorder DVD tidak merekam sinyal magnetik ke atas pita, tetapi camcorder ini menyimpan informasi video secara langsung ke atas sebuah kepingan CD. Keuntungan utama format ini adalah bahwa pada tiap sesi perekaman, bagian tersebut direkam sebagai trek tersendiri, seperti layaknya trek lagu tunggal pada sebuah CD. Daripada memutar maju secara cepat atau memutar mundur melalui sebuah pita, kita dapat segera melompati bagian-bagian tertentu dan langsung menuju pada bagian video tersendiri yang dikehendaki. Di sisi lain, camcorder DVD cukup memiliki performa yang hampir sama dengan model MiniDV. Namun demikian, gambar yang dihasilkan sedikit lebih baik untuk model DVD dan DVD memiliki durasi yang sedikit lebih panjang. Bergantung pada pengaturan camcorder, sebuah CD dapat menyimpan film mulai dari durasi 30 menit sampai dengan durasi 2 jam video. Camcorder DVD yang lebih canggih mendukung dua jenis format DVD: DVD-R dan DVD-RAM. Kedua format ini ¾ kali lebih besar dibandingkan ukuran keping film DVD dan terbungkus dalam sebuah wadah plastik. Keuntungan disk camcorder DVD-R adalah disk ini dapat bekerja pada pemutar DVD yang disetel maksimum. Kekurangannya adalah Anda hanya dapat merekam satu rekaman ke dalam satu disk, yang berarti bahwa Anda perlu membeli disk baru secara teratur. Anda dapat merekam pada disk DVD-RAM berkali-kali secara berulang-ulang, tetapi Anda tidak dapat memainkannya pada pemutar DVD biasa. Seperti halnya pita MiniDV, Anda harus menggunakan camcorder Anda sebagai sebuah pemutar untuk TV Anda atau menyalin film Anda ke dalam format yang lain.

Sumber : How Stuff Works
Oleh: Tom Harris
Bagaimana Cara Kerja Camcorder? Bagaimana Cara Kerja Camcorder? Reviewed by Momang Yusuf on 6/10/2015 10:23:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.