Cara Kerja Film Kamera



sebuah film fotografi

Sebelum jenis kamera digital berkembang belakangan ini, orang telah menggunakan kamera analog sejak kurang lebih 100 tahun lampau. Penggunaan kamera analog bukan hanya dalam bidang fotografi tetapi juga dalam perfilman. Kita sudah membahas bagaimana cara kerja kamera analog dalam blog ini. Namun, ada sesuatu hal yang menarik dalam fotografi dengan kamera analog ini yang perlu kita bahas juga.

Bagaimana prosesnya sehingga peristiwa yang dibidik oleh fotografer dapat terekam dia atas sebuah lembaran tipis berbahan plastik yang kita sebut fim itu?

Pada artikel ini kita akan membahas jawaban pertanyaan di atas dengan menguraikan cara kerja film sehingga dapat menyimpan peristiwa atau momen tertentu yang dibidik oleh kamera fotografer. Film inilah yang kemudian kita proses lebih jauh untuk menghasilkan sebuah gambar foto. Sebuah gambar yang dapat mewakili ribuan kata.

Apa sebenarnya makna “merekam” gambar dengan kamera yang kita istilahkan dengan memotret?


Pada saat kita menekan tombol kutip kamera, kita sebenarnya sedang membekukan sebuah peristiwa atau momen dalam sebuah waktu. Atau dengan kata lain kita sedang mengabadikan momen tersebut dengan cara merekam cahaya tampak yang dipantulkan dari benda-benda yang masuk dalam bidang pandang bidikan kamera kita. Agar cahaya pantulan ini terekam seperti yang diinginkan, maka cahaya yang terpantul tersebut harus menyebabkan terjadinya perubahan kimiawi pada film fotografi yang terdapat dalam kamera. Rekaman kimiawi ini sangat stabil, dan dapat segera diproses, diperbesar, dan dimodifikasi untuk menghasilkan sebuah gambar yang mewakili peristiwa yang dipotret itu.




Untuk dapat memahami bagaimana cara kerja film fotografi ini, dalam artikel ini kita akan menguraikan secara keseluruhan proses pengolahan film fotografi ini, termasuk mempelajari sejumlah aspek sains dalam dunia fotografi, mulai dari ekspos gambar, memproses gambar, dan menghasilkan gambar cetak. Semua proses ini bermula dari cahaya, yakni sebuah bagian dari spektrum gelombang elektromagnetik yang dapat dideteksi oleh mata kita.

Cahaya dan Energi


Sumber energi paling utama bagi makhluk yang ada di bumi ini adalah matahari. Energi matahari ini tiba di bumi dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Di antara sekian banyak komponen (spektrum) yang terdapat dalam gelombang elektromagnetik, mata kita hanya dapat menangkap (mengindera) bagian spektrum yang berupa spektrum cahaya tampak. Spektrum cahaya tampak ini terdiri atas cahaya warna merah yang memiliki panjang gelombang paling besar sampai cahaya warna biru yang memiliki panjang gelombang yang paling pendek.

Selain spektrum gelombang cahaya, spektrum gelombang elektromagnetik juga mengandung gelombang mikro, gelombang radio, gelombang inframerah, dan gelombang ultraungu. Mata kita tidak dapat melihat spektrum-spektrum tersebut kecuali jika kita menggunakan detektor khusus untuk itu.

Cahaya itu aneh. Dia bukan merupakan partikel juga bukan merupakan gelombang tetapi dia memiliki sifat sebuah partikel sekaligus memiliki sifat sebuah gelombang. Cahaya bisa kita fokuskan layaknya sebuah gelombang, tetapi energi cahaya itu terdistribusi dalam bentuk paket-paket energi yang kita sebut dengan foton. Energi setiap foton berbanding terbalik dengan panjang gelombang cahaya tersebut. Cahaya biru yang kita sebutkan sebelumnya memiliki panjang gelombang paling pendek akan memiliki energi foton yang paling tinggi, sedangkan cahaya merah memiliki energi foton yang jauh lebih rendah. Gelombang ultraviolet mengandung foton yang energinya jauh lebih tinggi lagi, tetapi jenis gelombang ini tidak kelihatan oleh mata kita. Gelombang cahaya inframerah juga tidak tampak pada mata kita, tetapi jika intensitasnya cukup tinggi, maka kita akan mendeteksi gelombang inframerah ini berupa panas di kulit kita.

Energi tiap-tiap foton cahaya inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan kimiawi pada detektor fotografi yang terdapat pada sebuah film fotografi. Proses dimana energi elektromagnetik menyebabkan terjadinya perubahan kimiawi pada sebuah material disebut dengan fotokimiawi. Dengan melakukan rekayasa khusus pada material, detektor fotografi pada film dapat dibuat stabil secara kimiawi sampai akhirnya film tersebut diekspos pada cahaya.

Bagian Dalam Rol Film


Jika kita membuka sebuah wadah film berwarna berukuran 35-mm, maka kita akan temukan lembaran plastik yang panjang yang tiap-tiap sisinya memiliki lapisan tertentu. Inti dari film tersebut disebut basis, yang berupa sebuah material plastik transparan (seluloid) yang tebalnya kurang lebih 0,025 mm. Bagian belakang film tersebut (biasanya agak buram) terdiri atas berbagai macam jenis pelapis yang melindunginya dari perlakuan fisik selama pembuatan dan pemrosesannya.

Sisi yang lain dari film tersebut merupakan bagian yang paling menarik, karena di tempat itulah proses fotokimiawi itu terjadi. Kira-kira terdapat 20 lebih lapisan yang ditempatkan di sisi ini yang secara keseluruhan lapisan-lapisan tersebut membentuk ketebalan sebesar 1/1000 inci. Bagian yang paling tebal dari susunan lapisan ini adalah sebuah pengikat yang berfungsi menyatukan komponen-komponen yang bertugas dalam proses perekaman gambar. Pengikat ini adalah material yang luar biasa, ada di mana-mana, yang kita disebut dengan gelatin. Jenis gelatin dalam fotografi ini adalah jenis gelatin yang dapat dimakan yang dimurnikan secara khusus untuk digunakan dalam fotografi.

Beberapa lapisan yang dilapiskan pada film transparan tidak dimaksudkan untuk menghasilkan bayangan (gambar). Lapisan ini digunakan untuk menyaring cahaya, atau mengontrol reaksi kimiawi yang terjadi dalam proses perekaman gambar. Lapisan yang berfungsi dalam proses perekaman gambar disebut lapisan imaging dan terdiri atas butiran-butiran kristal perak halida berukuran submikron yang berfungsi sebagai detektor foton. Kristal inilah yang menjadi jantung film fotografi. Butiran kristal ini yang akan mengalami reaksi fotokimiawi pada saat diekspos pada berbagai bentuk gelombang elektromagnetik, yakni cahaya. Selain pada cahaya tampak, butiran perak-halida ini juga peka terhadap radiasi inframerah.

Butiran perak-halida dibuat dengan mengombinasikan perak-nitrat dan garam halida (clorida, bromida, dan iodida) dengan cara yang kompleks sehingga menghasilkan berbagai ukuran, bentuk, dan komposisi kristal. Butiran-butiran dasar ini, kemudian dimodifikasi secara kimiawi pada permukaannya agar tingkat kepekaannya terhadap cahaya dapat meningkat.

Butiran perak halida yang yang tidak dimodifikasi secara kimiawi hanya akan peka pada bagian gelombang cahaya biru spektrum gelombang elektromagnetik, dan butiran ini tidak terlalu bermanfaat pada film. Molekul-molekul organik yang dikenal sebagai molekul-molekul yang peka terhadap spektrum warna ditambahkan pada permukaan butiran agar butiran-butiran tersebut lebih peka terhadap cahaya biru, cahaya hijau, dan cahaya merah. Molekul-molekul ini haruslah melekat pada permukaan butiran perak halida dan harus dapat memindahkan energi dari foton cahaya merah, foton cahaya biru, atau foton cahaya hijau ke kristal halida perak dalam bentuk sebuah elektron foto. Zat-zat kimia lainnya ditambahkan ke dalam butiran-butiran halida perak selama proses pembuatan butiran tersebut, atau ditambahkan pada permukaannya saja. zat kimia ini mempengaruhi sensitivitas butir terhadap cahaya, yang kita kenal dengan istilah kecepatan fotografi (dinyatakan dalam ukuran ISO atau ASA).

Jenis-jenis Film


Jika Anda membeli sebuah rol film untuk kamera, ada banyak pilihan untuk Anda. Jenis rol film dengan embel-embel rol film “warna” umumnya digunakan untuk menghasilkan cetakan berwarna. Film negatif yang dikembalikan kepada Anda setelah mencetak foto merupakan gambar rekaman yang dihasilkan oleh kamera Anda saat membidik. Sementara itu jenis rol film dengan embel-embel ‘krom’ pada namanya menghasilkan jenis film berwarna yang transparan (slide) yang biasanya digunakan pada proyektor untuk ditampilkan.

Jika Anda telah menentukan apakah hasil potret yang Anda inginkan akan berupa cetakan foto atau lembaran untuk slide, hal penting berikutnya yang perlu Anda pertimbangkan adalah kecepatan film. Umumnya, ukuran kecepatan film tercantum dalam namanya (misalnya sebuah rol film dengan nama MYFilm 200, menunjukkan kecepatan film tersebut adalah 200). ISO dan ASA film juga umumnya tercetak di wadahnya. Semakin besar nilai ISO atau ASA maka semakin “cepat” film tersebut. “Cepat” di sini mengandung arti kepekaan cahaya film semakin tinggi. Kita biasanya menginginkan film dengan kecepatan tinggi jika kita akan memotret benda-benda yang bergerak dengan kecepatan tinggi dan kita menginginkan hasil pemotretan itu fokus.

Film dengan kecepatan rendah digunakan pada fotografi portrait, dimana kita dapat mengontrol cahaya subjek, subjeknya dalam keadaan diam (tenang), dan kita menginginkan sebuah hasil cetakan yang lebih besar dari filmnya. Butiran perak halida yang agak kecil pada jenis film ini akan menghasilkan foto dengan kualitas terbaik.

Mengutip Gambar: Kecepatan Film


Setelah film terpasang dalam kamera, dan kita hendak mengambil gambar, maka subjek yang akan kita kutip harus difokuskan pada permukaan film. Pemfokusan ini dilakukan dengan mengatur lensa kaca atau plastik yang berfungsi membelokkan cahaya pantulan subjek masuk ke dalam film. Kamera jenis lama membutuhkan pengaturan manual untuk hal ini, tetapi kamera modern memiliki detektor yang secara otomatis akan memokuskan bayangan subjek ini ke permukaan film. Kamera dengan kemampuan fokus otomatis ini disebut dengan kamera fixed-focus.

Selanjutnya adalah pemaparan cahaya (ekspos cahaya) harus diatur. Kecepatan film merupakan faktor yang pertama, dan hampir semua kamera dewasa ini memiliki detektor otomatis untuk mengenali jenis kecepatan film yang digunakan dengan cara memindai kode yang menunjukkan kecepatan film yang ditempatkan di luar wadah film 35-mm oleh pembuatnya. Dua faktor berikut ini saling bergantung satu sama lain karena ekspos film merupakan hasil dari intensitas cahaya dan waktu ekspos. Dua faktor tersebut adalah intensitas cahaya ditentukan oleh berapa banyak cahaya pantul yang mencapai bidang film. Kita biasanya harus membawa meteran cahaya untuk mengatur eksposur kamera, namun demikian, kamera sekarang umumnya telah memiliki meteran eksposur cahaya bawaan yang terdapat dalam kamera. Di samping kecerahan subjek, semakin besar diameter lensa kamera, maka akan semakin banyak cahaya yang akan terkumpul.

Film fotografi memiliki keterbatasan tingkat eksposur. Jika ekspos dilakukan di bawah kondisi pencahayaan yang minim, maka semua cahaya yang terpantul dari subjek bidikan tidak akan terdeteksi. Hasil cetakan film akan tampak hitam gelap dan kehilangan detail. Jika ekspos dilakukan secara berlebihan, semua butiran peran halida akan terpapar cahaya sehingga tidak akan ada perbedaan antara bagian subjek yang lebih gelap dan bagian subjek yang lebih terang. Hasil potret akan tampak buram, dengan intensitas warna yang kurang.

Ada keuntungan yang kita peroleh jika kita menggunakan film dengan kecepatan tinggi dalam kamera. Yakni akan memungkinkan kita untuk menggunakan pengaturan rana kamera yang kecil. Dengan diameter rana yang kecil akan dihasilkan kedalaman pandangan yang lebih luas. Kedalaman pandangan menentukan seberapa fokus objek bidikan Anda akan tampak dalam foto. Kadang-kadang kita menginginkan memiliki kedalaman pandangan yang terbatas, sehingga hanya subjek primer yang fokus sedangkan latar belakangnya di luar fokus.

Pengambilan Gambar: Ekspos Kimiawi


Jadi, entah secara manual atau otomatis, anggaplah sekarang kita telah memiliki gambar yang fokus di permukaan film, dan pengaturan ekspos telah disesuaikan dengan kecepatan film yang digunakan, pengaturan rana, dan waktu ekspos. Sekarang Anda telah siap merekam gambar. Katakanlah, “cheese” dan tekanlah tombol jepret (kutip)....

Apa yang terjadi dalam proses ini?


Dengan membuka rana kamera dalam waktu sepersekian detik, Anda membentuk sebuah gambar laten dari energi cahaya tampak yang dipantulkan oleh benda-benda yang masuk dalam bidang pandangan kamera. Bagian yang paling terang dari subjek akan menyinari paling banyak butiran-butiran perak-halida dibandingkan bagian lain dari film. Pada bagian lain dari subjek, energi cahaya yang mencapai film lebih kecil, sehingga lebih sedikit butiran perak halida yang terekspos.

Ketika sebuah foton cahaya terserap oleh bagian yang peka terhadap spektra yang terdapat pada permukaan sebuah butiran perak halida, energi elektronnya akan bertambah besar sehingga elektron tersebut akan memiliki energi yang memungkinkannya naik ke pita konduksi. Energi elektron ini dapat ditransfer ke pita konduksi struktur elektronik butiran perak halida. Elektron pita konduksi ini dapat berkombinasi dengan sebuah lubang yang bermuatan positif yang terdapat dalam kisi perak halida dan membentuk sebuah atom perak tunggal. Atom perak tunggal ini tidak stabil. Namun demikian, jika terdapat cukup fotoelektron dalam kisi kristal pada saat yang bersamaan, maka fotoelektron ini dapat berkombinasi dengan sejumlah lubang yang bermuatan positif untuk menghasilkan sebuah kedudukan gambar laten yang stabil. Umumnya dianggap bahwa kedudukan gambar laten yang stabil paling tidak terdiri atas dua sampai empat atom per butir. Sebutir perak halida mengandung miliaran molekul-molekul perak halida, dan hanya dibutuhkan dua sampai empat atom perak yang tidak berkombinasi untuk membentuk gambar laten yang stabil.

Pada film warna, proses ini terjadi secara terpisah-pisah yaitu antara ekspos cahaya merah, ekspose cahaya hijau, dan ekspose cahaya biru dari cahaya yang terpantul. Terdapat sebuah lapisan yang terpisah-pisah dalam film untuk masing-masing cahaya ini: cahaya merah membentuk sebuah gambar laten pada lapisan film yang peka cahaya merah, cahaya hijau membentuk gambar laten pada lapisan film yang peka cahaya hijau, dan cahaya biru membentuk gambar laten pada lapisan film yang peka cahaya biru. Istilah laten yang kita gunakan di sini menunjukkan bahwa gambar tersebut tidak dapat dilihat atau dideteksi sebelum film tersebut diproses. Efisiensi foto sebuah film yang sebenarnya diukur berdasarkan performanya sebagai detektor foton. foton yang dapat mencapai film tetapi tidak menghasilkan gambar laten tidak berguna apa-apa. Film warna modern umumnya membutuhkan 20 sampai 60 foton per butir untuk menghasilkan sebuah gambar laten yang dapat diproses.

Pemrosesan Film: Hitam - Putih


Pada saat Anda menyerahkan rol film yang telah digunakan memotret kepada tukang cuci cetak foto, rol film Anda sekarang telah berisi gambar laten hasil pemotretan yang Anda lakukan. Gambar laten ini harus diperkuat dan distabilkan untuk menghasilkan warna negatif yang dapat dicetak atau dilihat melalui pantulan cahaya.

Sebelum kita membahas pengembangan sebuah film negatif warna, mungkin lebih baik jika kita melihat dulu proses pengembangan film negatif hitam-putih. Jika Anda menggunakan film hitam putih di kamera Anda, proses terbentuknya gambar laten pada film hitam putih ini akan sama dengan proses pembentukan gambar laten pada film warna, kecuali bahwa butiran perak halida pada film hitam putih ini dibuat peka pada semua panjang gelombang cahaya tampak bukan hanya pada panjang gelombang warna biru, hijau, atau merah saja. Pada film hitam putih, jumlah lapisan butiran perak halida yang dilapiskan pada film hanya satu atau dua lapisan saja, sehingga proses pengembangannya lebih mudah dipahami.

Bagaimana proses pengembangan film tersebut?



  1. Pada langkah pertama pemrosesan, film ditempatkan pada agen pengembang yang sebenarnya merupakan agen pereduksi. Agen pereduksi ini akan mengonversi ion-ion perak menjadi logam perak. Butiran-butiran perak yang menyimpan pola gambar laten akan mengembang dengan cepat. Dengan pengaturan temperatur yang sesuai, waktu, dan goyangan, butiran yang mengandung gambar laten ini akan menjadi perak murni. Butiran yang tidak mengalami ekspos cahaya akan tetap berupa kristal perak halida.
  2. Langkah berikutnya adalah menyempurnakan proses pengembangan dengan membilas film dengan air, atau dengan menggunakan sebuah cairan “penghenti” yang menghentikan proses pengembangan.
  3. Kristal perak halida yang tidak terekspos cahaya akan dihilangkan melalui proses yang disebut pencucian perbaikan. Pada proses pencucian ini, hanya kristal perak halida yang akan larut, sehingga tersisa logam perak.
  4. Pada langkah terakhir, film akan dicuci lagi dengan air untuk menghilangkan semua zat-zat kimiawi yang tertinggal saat melakukan proses-proses pencucian sebelumnya. Film kemudian dikeringkan, dan dipotong-potong menjadi film negatif untuk tiap foto.


Jika proses ini telah selesai, kita telah memiliki apa yang disebut gambar negatif dari kejadian yang telah kita potret. Makna negatif pada frase “gambar negatif” mengandung arti bahwa bagian yang paling gelap dalam gambar tersebut justru adalah bagian yang sebenarnya mendapat paparan cahaya yang paling tinggi. Pada daerah-daerah yang tidak menerima cahaya, gambar negatif tidak mengandung atom-atom perak. Bagian ini bersih. Untuk menghasilkan gambar positif yaitu gambar yang normal kita lihat, gambar negatif ini harus dicetak pada jenis material peka cahaya lainnya (biasanya kertas fotografi).

Pada proses pengembangan ini, gelatin memainkan peran yang penting. Gelatin akan mengembang sehingga memungkinkan zat-zat kimia pemroses dapat mencapai butiran-butiran perak halida. Namun demikian, gelatin tetap mempertahankan butiran-butiran tersebut di tempatnya. Proses pengembangan gelatin ini merupakan hal yang penting bagi pergerakan zat-zat kimia dan produk reaksi dalam lapisan film fotografi. Sejauh ini belum ada yang menemukan bahan yang cocok untuk menggantikan gelatin dalam produk fotografi.

Pengembangan Film Warna


Jika film yang kita gunakan adalah film jenis warna, maka proses kimiawi pengembangan film ini memiliki beberapa perbedaan dengan film hitam putih.

Langkah pengembangan jenis film warna menggunakan bahan kimia pereduksi dan butiran perak halida yang diekspos diproses menjadi perak murni. Pengembang teroksidasi dihasilkan dalam proses ini, dan pengembang tersebut bereaksi dengan zat-zat kimia yang disebut perangkai yang merangkaikan tiap lapisan pembentuk citra (gambar). Reaksi ini menyebabkan perangkai tersebut dapat menghasilkan sebuah warna, dan warna yang dihasilkan ini bergantung pada kepekaan butir perak halida terhadap spektra warna. Perangkai pembentuk warna yang berbeda akan digunakan pada lapisan yang peka warna biru, hijau dan merah. Citra laten dalam lapisan yang berbeda akan membentuk celupan warna yang berbeda pada saat film dikembangkan.

- Lapisan peka cahaya merah membentuk celupan berwarna cyan
- Lapisan peka cahaya hijau membentuk celupan berwarna magenta
- Lapisan peka cahaya biru membentuk celupan berwarna kuning

Proses pengembangan dihentikan dengan cara pencucian atau dengan sebuah cairan penghenti. Butir perak halida yang tidak mengalami ekspos cahaya dihilangkan dengan menggunakan larutan perbaikan. Perak yang dikembangkan pada langkah pertama dihilangkan dengan menggunakan zat kimia pemutih.

Gambar negatif yang diperoleh kemudian dicuci untuk menghilangkan semaksimal mungkin zat-zat kimia dan hasil reaksi yang terbentuk selam pemrosesan film. Film kemudian dikeringkan.

Film gambar negatif warna yang dihasilkan setelah proses di atas akan nampak menyeramkan. Pertama, tidak seperti film negatif hitam putih, film negatif warna tidak mengandung perak. Di samping bersifat negatif (memiliki warna yang berlawanan), film ini memiliki corak warna yang agak jingga kekuning-kuningan. Corak ini merupakan sebuah warna negatif dalam arti bahwa semakin banyak paparan cahaya warna merah, maka semakin cyan celupan yang terbentuk. Warna cyan merupakan campuran antara warna biru dengan hijau (atau putih minus merah). Keseluruhan corak yang berwarna jingga ini merupakan hasil dari celup penutup yang membantu memperbaiki ketidaksempurnaan proses reproduksi warna secara keseluruhan. Lapisan citra yang peka warna hijau mengandung celupan magenta, dan lapisan citra yang peka warna biru mengandung celupan warna kuning.

Warna-warna yang terbentuk dalam film negatif warna mengikuti sistem pembentukan warna subtraktif. Sistem subtraktif menggunakan satu warna (cyan, magenta atau kuning) untuk mengontrol masing-masing warna primer. Sistem warna aditif menggunakan kombinasi warna merah, hijau, dan biru untuk menghasilkan sebuah warna. Televisi warna merupakan sistem yang menggunakan pembentukan warna aditif karena menggunakan bintik-bintik fosfor kecil warna merah, hijau, dan biru untuk menghasilkan sebuah warna. Dalam fotografi, warna dilapiskan di atas lapisan lain, sehingga diperlukan sistem reproduksi warna subtraktif.

- Warna merah dikontrol oleh celupan cyan
- Warna hijau dikontrol oleh celupan magenta
- Warna biru dikontrol oleh celupan kuning

Proses pencetakan: foto hitam putih


foto Negatif sangat tidak memuaskan untuk dipandang. Ukurannya kecil, dan warnanya sangat aneh. Untuk dapat menghasilkan foto cetak, film negatif ini harus diekspos pada kertas cetak warna.

Kertas cetak warna merupakan jenis kertas kualitas tinggi yang dibuat khusus untuk mencetak foto. Kertas jenis ini dibuat kedap air dengan menambahkan lapisan plastik pada kedua sisinya. Bagian muka kertas ini kemudian dilapisi dengan butir-butir perak halida peka cahaya yang dirancang untuk peka terhadap warna biru, hijau, dan merah. Karena kondisi paparan untuk kertas cetak warna dikontrol secara hati-hati, struktur lapisan kertas ini jauh lebih sederhana dibandingkan dengan film negatif warna. Sekali lagi, gelatin berperan penting dalam kertas ini sebagai perekat utama yang memegang butir-butir pembentuk citra dan memegang (merangkai) komponen-komponen pembentuk warna agar menyatu membentuk lapisan-lapisan tunggal yang sangat tipis di atas permukaan kertas.

Jika kita ingin mencetak sebuah film negatif hitam putih, maka kita punya pilihan cetak perbesar atau cetak kontak langsung. Jika kita ingin cetakan dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan ukuran film negatifnya, maka kita perlu cetak perbesaran, yang pada dasarnya menggunakan sebuah proyektor lensa untuk memfokuskan citra gambar dan sebuah sumber cahaya yang terkontrol. Film negatif ditempatkan pada pembesar, dan diproyeksikan ke permukaan datar dimana kertas cetak dipasang. Gambar yang terbentuk pada kertas ini diamati dengan cermat untuk memastikan bahwa gambar telah fokus. Jika belum fokus, kita dapat mengatur lensa dan jarak proyeksi. Jika ukuran gambar dan fokusnya telah sesuai, semua sumber cahaya dimatikan, dan sebuah kertas hitam putih ditempatkan di atas permukaan pelat tadi. Kertas ini kemudian dipapar pada cahaya selama waktu tertentu dengan menggunakan pembesar berupa proyektor tadi. Sebuah gambar laten terbentuk pada butiran perak yang mengalami paparan cahaya. Di sini, daerah yang paling gelap pada film negatif akan menerima paparan cahaya dalam jumlah yang paling sedikit, oleh karena itu tampak paling cerah dan merupakan bagian yang paling memantulkan cahaya pada hasil cetakan. Proses pengembangannya sama dengan proses pengembangan pada film negatif hitam putih, kecuali bahwa pada kertas cetak ini ukurannya jauh lebih besar dibandingkan ukuran film, dan gangguan proses kimiawi lebih kritis dan lebih sulit.

Proses Pencetakan: foto warna


Pencetakan foto dari film negatif warna biasanya dilakukan oleh laboratorium pusat yang besar yang menangani pencetakan dan pemrosesan khusus, atau bisa juga dilakukan di rumah dengan laboratorium mini.

Proses pembentukan gambar negatif berwarna pada dasarnya sama dengan proses pembentukan gambar negatif hitam putih. Perbedaannya hanya terletak pada proses pencetakan, dimana gulungan panjang kertas warna terlebih dahulu harus dimasukkan ke dalam sebuah pencetak pada proses pencetakan film negatif berwarna. Rol negatif kemudian dipasang, dan operator pencetak bekerja dalam cahaya normal untuk melakukan pratinjau tiap-tiap film negatif dan melakukan penyesuaian terhadap keseimbangan warnanya. Keseimbangan warna ini diatur dengan menambahkan filter warna substraktif agar diperoleh hasil cetakan yang lebih baik, terutama jika pemotretan dilakukan pada kondisi yang tidak tepat. Begitu rol kertas foto dipapari cahaya, kertas foto ini kemudian diproses lebih lanjut.

Berikut ini adalah tahapan-tahapan pemrosesan kertas warna setelah dipapari cahaya.


  1. Lokasi gambar laten berkembang, dan molekul-molekul pengembang teroksidasi bergabung dengan perangkai pembentuk cahaya untuk menghasilkan sebuah gambar perak dan sebuah citra celup. Reaksi kimia pada proses ini diakhiri dengan langkah pencucian.
  2. Gambar perak dan perak halida yang tersisa yang tidak mengalami paparan cahaya dihilangkan dalam sebuah larutan kombinasi pemutih dan perbaikan (dalam istilah fotografi disebut BLIX, singkatan dari bleach-plus-fix)
  3. Hasil cetakan ini kemudian dicuci dengan hati-hati untuk menghilangkan zat-zat kimia yang melekat.
  4. Foto cetakan kemudian dikeringkan.


Sekali lagi perekat gelatin akan mengembang dalam proses ini untuk memungkinkan zat-zat kimiawi memasuki butiran-butiran perak halida serta memungkinkan air murni untuk membilas produk sampingan yang terbentuk dalam proses ini. Gambar berwarna yang dihasilkan seharusnya tidak mengandung sisa-sisa perak lagi.

Sebagai sebuah contoh terakhir dari proses pencetakan gambar berwarna, perhatikan film negatif yang dipapar ke sebuah benda berwarna kuning. Jika film negatif yang dihasilkan tersebut ditempatkan pada pencetak, kemudian cahaya putih disorotkan melalui film negatif ini ke arah kertas warna, maka inilah yang akan terjadi. Penyorotan dengan cahaya putih setara dengan sebuah ekspos cetak warna. Hanya cahaya biru yang dapat melewati film negatif warna tersebut dan menyorot kertas warna. Kertas warna yang tersorot kemudian akan membentuk celupan warna kuning dalam sebuah lapisan yang peka warna biru, dan warna yang asli akhirnya akan terbentuk.

Nah, bagaimana pendapat Anda tentang penjelasan proses pengolahan hasil fotografi yang panjang di atas?

Jika sejauh ini apa yang telah diuraikan di atas Anda pahami dengan baik, maka Anda perlu diberi ucapan selamat! Memahami proses fotografi tidaklah semudah yang kelihatan, tetapi justru itulah yang membuatnya begitu berarti. Kemampuan untuk menangkap dan merekam foton tunggal cahaya dan mengubahnya menjadi kenangan yang abadi memerlukan banyak langkah yang rumit yang penjelasannya telah disampaikan di atas. Jika salah satu di antara langkah-langkah di atas tidak berjalan baik, maka hasil fotografi yang kita peroleh mungkin saja kesia-siaan. Di sisi lain, jika semua hal-hal tersebut berjalan baik, maka hasil fotografi yang kita peroleh akan merupakan sebuah kejutan. Betul-betul sebuah kejutan!


Referensi: www.howstuffworks.com


Cara Kerja Film Kamera Cara Kerja Film Kamera Reviewed by Momang Yusuf on 3/02/2015 12:37:00 AM Rating: 5

1 komentar:

  1. Selamat siang,

    Setelah selesai proses film, bahan kimia harusnya dibuang kemana ya? apa harus di netral sebelum dibuang?

    Terima Kasih

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.