02 November 2008

Dilema Penganugerahan Nobel Fisika Pertama Kali

Ads by Google

Fisika dianggap sebagai cabang ilmu alam yang paling mendasar. Fisika mempelajari tentang bagian terkecil dari suatu materi beserta interaksi antar bagian-bagiannya, tentang atom-atom, serta seluruh benda-benda yang tersusun atas atom-atom. Fisika juga memberikan gambaran yang komprehensif tentang perilaku materi dan radiasi, yang mencakup sebanyak mungkin fenomena-fenomena. Dalam beberapa penerapannya, fisika sangat dekat dengan wilayah kerja kimia klasik, dan dalam hal yang lain fisika berhubungan dengan gejala-gejala yang dipelajari oleh para astronom klasik. Dewasa ini, fisika malah cenderung mendekati wilayah kerja mikrobiologi.
Meskipun kimia dan astronomi secara jelas merupakan disiplin ilmu sains yang tidak saling bergantung satu sama lain, keduanya menggunakan fisika sebagai dasar perlakuan terhadap persoalan yang akan dipecahkan dalam wilayah kerja masing-masing. Tepatnya, kimia dan astronomi menggunakan konsep-konsep dan alat-alat analitis yang digunakan fisika.

Dari Fisika Klasik Hingga Fisika Kuantum
Pada tahun 1901, pada saat pertama kalinya akan diadakan penganugerahan nobel, area fisika klasik tampaknya telah stagnan di atas dasar-dasar fisika yang dibangun oleh fisikawan-fisikawan besar dan ahli kimia abad IX. Sulit menemukan hasil penemuan dalam bidang fisika yang memenuhi kriteria untuk menerima penghargaan nobel. Hamilton telah memformulasi deskripsi tentang dinamika benda tegar yang berlaku umum sedini tahun 1830-an. Carnot, Joule, Kelvin, dan Gibbs telah mengembangkan termodinamika hingga mencapai sebuah derajat kesempurnaan yang cukup tinggi selama paruh kedua abad tersebut.
Rumusan terkenal dari Maxwell telah diterima sebagai sebuah penggambaran umum mengenai fenomena elektromagnetik dan diketahui juga dapat digunakan untuk menjelaskan persoalan tentang radiasi optik serta gelombang radio yang baru saja ditemukan oleh Hertz.

Segala sesuatunya, termasuk fenomena gelombang, kelihatannya cukup sesuai dan dapat digambarkan dengan menggunakan landasan gerak mekanik bagian-bagian terkecil dari suatu materi yang mewujudkan dirinya dalam berbagai fenomena. Sejumlah fisikawan eksperimen di akhir abad IX mengemukakan komentarnya bahwa apa yang kini tersisa untuk para fisikawan pada saat itu adalah hanya tinggal melengkapi celah-celah kecil bangunan pengetahuan yang tampaknya telah terbangun secara lengkap.

Menjelang tahun-tahun terakhir abad IX, sebuah fenomena dalam bidang fisika yang sebelumnya tidak dapat diperkirakan akan terjadi adalah penemuan sinar-X oleh Wilhelm Conrad Rontgen pada tahun 1895. Penemuan inilah yang pertama kali menerima penghargaan nobel dalam bidang fisika pada tahun 1901. Yang lainnya adalah penemuan Radioaktivitas oleh Antoine Henri Becquerel pada tahun 1896, dan studi lanjutan mengenai sifat-sifat radiasi ini oleh Marie dan Pierre Curie. Asal usul sinar-X yang ditemukan oleh Rontgen pada saat itu tidak segera dapat dipahami oleh kalangan fisikawan, tetapi diyakini bahwa sinar ini mengindikasikan keberadaan sebuah dunia tersembunyi dari fenomena. Dari hasil pekerjaan tentang radioaktivitas oleh Becquerel dan Curie yang dilakukan pada tahun 1903, ditambah dengan hasil kerja dari Ernest Rutherford (peraih nobel kimia pada tahun 1908), akhirnya memberikan gambaran bahwa atom-atom, yang pada awalnya dianggap sebagai objek yang tidak terbagi lagi, pada akhirnya diketahui terdiri atas sebuah inti yang padat namun sangat kecil. Sejumlah inti atom diketahui bersifat tidak stabil dan dapat memancarkan sinar-sinar alpha, beta, dan gamma yang dapat diamati. Ini merupakan sebuah hasil penemuan yang revolusioner pada masa itu, dan menjadi titik awal penemuan gambaran tentang struktur atom yang pertama melalui hasil kerja paralel sejumlah ilmuwan-ilmuwan fisika.

(Bersambung)

2 komentar :